Review Film A Monster Calls: Letting Go is Not A Shame


Arief Apriadi | #ReviewFIlm A Monster Calls
Pernahkan kalian merasa putus asa pada suatu hal dan rasanya ingin menyerah saja? Merasa lelah dan marah disaat bersamaan? Mungkin itulah yang dirasakan Conor (MacDougall) selaku tokoh utama di film A Monster Calls arahan J. A. Bayona ini.

Film ini mengisahkan Conor O’Malley, anak berusia 12 tahun yang harus menghadapi persoalan pelik dalam hidup. Kondisi ibunya (Felicity Jones) yang menderita kangker, Neneknya (Sigourney Weaver) yang menyebalkan, perceraian kedua orang tua, serta perlakuan bullying di sekolah membuatnya menjadi anak yang pendiam. Suatu ketika ditengah malam, Conor didatangi oleh monster berwujud pohon (Lima Neeson) yang berjanji akan menceritakan tiga buah kisah kepadanya, dengan imbalan, Conor harus menceritakan kisah keempat mengenai mimpi buruk yang selama ini ia rahasiakan.

Pada awal film, kita akan langsung disuguhkan potongan pendek dari mimpi buruk yang dialami Conor. Penonton dibuat bertanya-tanya, apa yang diimpikan Conor hingga ia terlihat ketakutan saat terbangun dari mimpi buruknya. Nuansa “dark” begitu terasa dari menit pertama film berjalan.

Kondisi ibunya yang sakit, membuat Conor bersikap mandiri. Membereskan kasur, menyiapkan sarapan, dan membersihkan dapur adalah kegiatan sehari-hari Conor sebelum berangkat sekolah.

Disuatu malam, tepatnya pukul 12.07, ketika Conor sedang menengok keluar jendela untuk memandang pohon tua berusia ratusan tahun di seberang rumahnya, tiba-tiba pohon tersebut berubah dan menjelma menjadi monster pohon raksasa dengan kaki dan tangan lengkap seperti manusia. Pohon itu menghampiri Conor dan berjanji akan menceritakan tiga kisah  dari masa lalu.

Satu-persatu kisah pun diceritakan oleh sang monster, mulai dari kisah seorang ratu “jahat” yang difitnah dan dikudeta oleh anak tirinya, kisah dukun kolot yang menolak kemajuan zaman namun sebenarnya merupakan orang yang bijaksana, dan kisah tentang manusia tak terlihat karena orang-orang tidak ingin melihatnya atau tidak peduli dengan kehadirannya.

Sampailah dikisah keempat, kisah dimana Conor lah yang harus menceritakan kisahnya. Sang monster menagih cerita Conor dan memaksanya menceritakan kisahnya dengan sejujur-jujurnya. Seperti apakah kisah keempat yang akan diceritakan Conor? Langsung saja tonton filmnya ya :D.

Jika tujuan sang sineas ingin membuat kesan dark fantasy dalam film ini, menurut saya J. A. Bayona benar-benar berhasil mewujudkannya. Tone warna yang terkesan monochrome, sinematografi yang menunjukan kesan “sunyi”, sukses membalut semua materi yang ada menjadi sebuah film drama gelap yang penuh pesan moral dan misteri.

Pemilihan cast dengan nama-nama besar seperti Sigourney Weaver (Avatar), Felicity Jones (Rogue One), Liam Nesson (Taken) sebagai pengisi suara sang monster, serta MacDougall (Pan) aktor muda berbakat membuktikan J.A Bayona selaku sutradara benar-benar serius menggarap A Monster Calls. Nama-nama di atas cukup sukses menghidupkan karakter masing-masing tokoh.

Setting tempat minimalis yang tak jauh-jauh dari rumah, sekolah, rumah sakit, dan pemakaman, tidaklah membuat film ini membosankan, karena dieksekusi dengan pengambilan gambar yang padat dan otentik.

Sebagai penonton awam, saya begitu menikmati pengisahan dalam film A Monster Calls ini, cerita yang simpel dibuat begitu mengalir dengan memasukan unsur-unsur moral yang benar-benar menginspirasi saya sebagai pribadi. Apalagi eksekusi akhir dalam film ini dibuat sangat indah dan menyejukan, dengan memberi pesan bahwa MERELAKAN sesuatu yang kita cintai, sayangi, dan butuhkan, bukanlah suatu yang hina dan memalukan. Terkadang ada hal-hal dihidup ini yang sama sekali tak bisa kita paksakan, dan hanya ada satu jalan yaitu merelakannya pergi.

Jadi bagi kalian yang baru-baru ini ditinggal pacar, ditinggal gebetan kepangkuan orang lain, ditinggal teman wisuda, ditinggal orang-orang tercinta, mungkin film ini cocok untuk memperlancar kalian melepas air mata, hehehe :D.

Score: 7.5/10                                                                                                                 Arief Apriadi

Comments

Popular posts from this blog

BERHALA-BERHALA BARU

Midsommar Itu Film Putus Cinta, Horornya Cuma Pemanis